Skip to content

MAHASISWA n DOSEN PERLU NGUMPULKAN POIN DAN COIN

Januari 9, 2009

Menyikapinya maraknya demonstrasi mahasiswa menentang disahkannya UU BHP, rasanya perlu pemikiran lain mencari alternatif kemandirian dan otonomi sebuah perguruan tinggi bila nantinya ditinggal oleh pemerintah yang selama ini selalu berperan sebagai induk yang menyusui besarnya sebuah perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi negeri.

Maka perguruan tinggi bisa mencari langkah kreatif untuk menggalang dana tanpa membebani biaya SPP jadi mahal. Maka para dosen dan mahasiswanya tidak boleh hanya mencari poin (nilai dan angka kredit) saja, tetapi perlu juga mengumpulkan “coin” (pendapatan) dengan menjual kemahiran akademik dan teknologis yang dimiliki kepada masyarakat pengguna.

Sepertinya sebagian mahasiswa di STISIPOL/Fisip UMRAH sudah merasakan strategi ini, ketika kecil-kecilan mereka melakukan survey untuk Pilkada.

Untuk itu boleh juga dicermati pandangan yang dilontarkan oleh Prof. Lilik Hendrajaya, dari Dewan Riset Nasional dan mantan Rektor ITB, sebagaimana dikutip dari Republika Online berikut ini:

By Republika Newsroom
Jumat, 09 Januari 2009 pukul 19:18:00

SURABAYA — Perguruan Tinggi (PT) bukan hanya sekadar ajang para dosen dan mahasiswa untuk mengumpulkan ilmu dan kredit poin semata. “Lebih dari itu, PT harus bisa menghasilan ‘coin’ (pendapatan) yang selama ini terlupakan,” kata Dewan Riset Nasional Prof. Lilik Hendrajaya, Msc, Phd, di Surabaya, Jumat.

Menurut dia, coin atau pendapatan ini yang belum terpikirkan dengan matang. Padahal, menurut Lilik, riset-riset di bidang MIPA ini banyak yang dapat dipasarkan. “Tidak usah muluk-muluk. Lihat saja Lembaga Survei Indonesia (LSI). Itu kan industri jualan survei. Bagaimana menjadikan ‘knowledge’ menjadi komoditi,” katanya.

Bahkan, menurutnya, coin ini bisa didapatkan oleh mahasiswa di tingkat awal. “Bikin saja kursus membaca multimeter, atau kursus sampling survei. Itu laris dicari orang,” katanya menambahkan.

Selain itu, kata dia, praktikum juga dapat menjadi komoditi yang laku di pasaran jika tahu bagaimana memasarkannya. Seperti praktikum fisika elektrolisa gas ledak. “Jangan salah, itu sedang laris sekarang, laku untuk menghemat BBM sampai 30 persen,” katanya menandaskan.

Menghasilkan coin ini juga harus dilakukan oleh para pengajar. Kecenderungan di tingkat pengajar hanya berhenti sebatas riset dan memperoleh hak paten. Yang tidak kalah penting adalah mengelola manajerial dalam diri. Manajemen diperlukan sejak masih di tingkat paling bawah. Kemampuan berkomunikasi, menghadapi segala macam tipe orang mutlak harus dikuasai. “Banyak profesor yang tidak mempunyai kemampuan ini. Jadi kalau bicara pedas, bisa-bisa bikin trauma mahasiswanya,” kata mantan rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.ant/kp

Bravo untuk mahasiswa STISIPOL yang tak pernah cengeng karena subsidi sebagaimana mahasiswa PTN, tetapi kreatif melalui bekal ilmu yang dimiliki demi kemaslahatan umat dan kemaslahatan kantong masing-masing.  Teruskan….

3 Komentar leave one →
  1. Januari 16, 2009 5:18 pm

    ai…bagus juge tu ide sang profesor. artinye akademisi selain pandai dituntut musti punye sikap enterpreneuralship ye pak cik. mesti lihai cari duit (earning money). pak long setuju-setuju je. tapi jangan pulak sampai terlene. maklumlah… duitlah kate, boleh buat mate merah. kalau mate dah merah batang hidongpun jarang nampak di kampus. tenggelam timbo macam kure-kure. macam-macamlah alasan boleh dibuat, alasan yang paling tepat sehingge pengetue tak boleh larang memenuhi tri dharma perguruan tinggi ke due dan ketige (penelitian dan pengabdian masyarakat). budak-budakpun tebia macam anak ayam kehilangan induk. akhirnye masuk sekali suruh pelajar tande tangan tige kali. tu yang due kali duit haram namenye. lepas tu kasi pulak anak/laki/bini makan. ade pulak terdenga yang pakai penolong, macam betol je…tak faham ke yang beri makan mike-mike tu pelaja-pelaja daripada yuran sekolah mereke. kalaulah duit yang diperoleh tu ade tempias untuk lembage takpelah… ni yang ade masok poket sorang. nak kaye sorang. kalaulah penyelidikan yang dijalankan tu murni akademik tak pelah. ni yang ade pesanan sponsor pehak kerajaan atau parti politik…nah… tabiat macam nilah yang pak long khawatirkan bile pensyarah-pensyarah selain disuruh selain cari poin juge coin. mengikut pak long yang mustahak tu jadi pensyarah pandai-pandailah, tak perlulah pandai sangat, tapi jangan sekali-sekali mandai-mandai ye. ..wallahualam bissawab…..

  2. Bijigituloh permalink*
    Januari 17, 2009 1:03 am

    Ye tak iye juga kate pak Long tuh…
    Manusie memang dah dicipta dengan satu “chips” yang sama, dorongan sikap tamak, halobe, mementingkan poket sendiri, abay pada tanggungjawab, suke dengan sikap berpura-2,misalnya pura-pura sibok, pura-pura manusiawi, pura-pura suci, supaya orang lain tak tau isi sebenar dalam hati. Itulah potensi buruk yang dah ditanam dalam kepale hotak manusie… Eh em… ternyata penelitian terhadap perilaku hewan tak dijumpai “chips” macam tu.
    Oleh karena itu kalau dah diberi kesempatan bebas macam tu, ternyata manusia lebih ganas, lebih halube, dan tentu saja lebih cerdik dalam memperjuangkan poket sendiri, bila dibandingkan dengan saudara-saudara primata yang lain, macam si Amang, berok atau kera. Bahkan manusia bisa menutupi perasaan berdosa, tidak merasa bersalah, bahkan setelah melakukan tindakan curang sekalipun.
    Jadi kalau disuroh cari “coin” halobenya bukan main lupe orang lain, dan bile diminta “poin”, ehem.. poin ape ketidak jeeee.

    Dan celakenya juga berlaku bagi manusia yang bertitel “akademisi kononnya”….

  3. wong ndeso wok wok wok permalink
    Maret 2, 2009 4:05 pm

    lah cucah sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: