Skip to content

SEBUAH KAPSUL MOTIVASI DALAM MENYELESAIKAN TUGAS AKHIR

September 7, 2008
by

By Azmi Sanjaya Putra S.Sos

Bismillah Hirahmaan Nirrahiim
Dengan nama Allah yang maha pengasih, lagi maha Penyayang
Hanya diri-Nya lah yang memiliki kebenaran
Dan hanya dari- Nya lah semua ilmu berasal

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan pertama saya dengan judul THE STUDENT HABIT’S AT SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE FACULTYOF  MARITIME UNIVERSITY RAJA ALI  HAJI.  Dimana tulisan kedua ini merupakan sebuah kata pengantar dari artikel yang berisi tentang petunjuk teknis pelaksanaan SK-334 (Pedoman Penyusunan Skripsi Pada STISIPOL Raja Haji) yang insya Allah akan saya tulis selepas ini.
Sebuah kekalutan saya rasakan pada mahasiswa yang saat ini berada pada semester akhir, khususnya pada Mahasiswa FISIPOL UMRAH/ STISIPOL Raja Haji.  Sebuah kekalutan yang juga saya rasakan pada saat keadaan saya sama seperti mereka.  Hal yang pastinya menimbulkan rasa was-was, cemas bahkan mungkin depresi yang harus segera diobati.  Obat yang paling mujarab serta masuk akal tentunya harus segera di-resepkan kepada mereka.  Tentu hal ini, juga memerlukan seorang tabib ataupun dokter yang berpengalaman untuk memberikan resep tersebut.  Namun perlu saya tegaskan disini, saya bukanlah tabib atau lebih lagi seorang dokter.  Saya hanya seseorang yang sudah lebih dahulu merasakan hal tersebut.  Sehingga saya juga telah lebih dahulu mendapatkan resep tersebut.  Dari siapakah resep tersebut saya dapatkan?  Tentunya pasti dari orang yang telah lebih dahulu dari rasa merasakan hal tersebut (was-was, red).  Siapa orangnya?  Wah… banyak sekali.  Mulai dari dosen, senior, bahkan sampai orang tua yang pernah merasakan hal serupa.
Saya rasa hal tersebut,  tidak perlu dibahas lebih dalam tentang siapa yang mentransfer atau mengijazahkan kapsul motivasi ke saya dalam artikel ini.    Karena apabila anda mengirim Al-Fatihah ke saya karena telah mengijazahkan ilmu ini ke anda, insya Allah, Allah akan mentransfer Al-Fatihah tersebut kepada orang yang telah berjasa mendidik saya dengan kapsul motivasi ini.  Amin ya Rabbal A’lamin.  Namun jika anda memang membutuhkan informasi tersebut, silahkan layangkan permohonan tersebut ke saya melalui askmeid@yahoo.com.
Baik kita akan memulai membahas masalah penyakit kalut pada mahasiswa semester akhir.  Ada beberapa golongan penyakit yang menimbulkan gejala kalut, was-was, cemas bahkan depresi yang mungkin saja menyerang mahasiswa pada semester akhir.  Penyakit pertama bernama penyakit “Bingung menghadapi skripsi”, Penyakit kedua bernama “takut tidak selesai kuliah tepat waktu” dan penyakit ketiga bernama “Penyakit tak mau tahu, selesai atau tidaknya kuliah”  Ketiga penyakit ini berada pada level yang berbeda, namun tentunya dapat menyebabkan anda DO (Drop Out).  Penyakit pertama berada dalam stadium “Tidak Ganas”, yang Kedua “Ganas” dan yang ketiga “Hampir Tak dapat diobati”.  Saya akan menjelaskan satu persatu karekteristik dari ketiga penyakit ini sebelum saya memberikan obat penawarnya beserta petunjuk pemakaiannya.  Namun sebelumnya saya harus mengatakan, obat ini manjur jika percaya dan yakin bahwa atas izin dari Allah obat ini dapat menjadi perantara penyembuhan, namun jika tak percaya silahkan anda mencari resep yang anda percayai.  INGAT KUNCINYA ADALAH KEPERCAYAAN!!!

A.    Pembahasan Pertama Penyakit “Bingung Menghadapi Skripsi

Gejala pada penyakit yang divonis tidak ganas ini, sebenarnya sangat cepat menular.  Terlebih pada mahasiswa yang sudah berada pada semester akhir (semester 7 & 8 atau bahkan lebih).  Cepatnya menular penyakit ini, disebabkan kondisi lingkungan yang dihadapi kurang sehat.  Mengapa kurang sehat?  Hal ini dikarenakan lingkungan akademis pada semester akhir sangat mendukung berkembang biaknya penyakit ini.  Penyakit ini sebenarnya telah mulai mengembangkan dirinya sejak semester 3, dimana pada semester ini mahasiswa mulai mengambil mata kuliah metodologi penelitian (pada kampus STISIPOL dinamakan dengan Metodologi Penelitian Sosial).  Pada fase pertama penyakit ini akan menimbulkan rasa pusing seperti migren8).  Kemudian penyakit ini semakin berkembang pada mata kuliah metodologi prodi yang dipilih.  Misalnya Metodologi Administrasi Negara pada Prodi Ilmu Administrasi Negara.  Pada fase kedua gejala yang ditimbulkan adalah kepala pusing seperti terkena benturan8).  Setelah memasuki fase perkembangan kedua, maka penyakit ini memasuki fase perkembangan ketiga pada mata kuliah seminar.  Dimana pada fase ini gejalanya seperti lupa ingatan, dan bingung apa yang harus dimulai.  Saya sangat yakin, pembaca akan bertanya-tanya mengapa penyakit ini saya kaitkan dengan beberapa mata kuliah?  Tunggu dulu… ini baru sampai fase ketiga.  Penyakit ini mengalami metamorphosis sempurna seperti yang terjadi pada serangga kupu-kupu yang mengalami metamorphosis sempurna.  Penyakit ini akan sempurna melancarkan aksinya pada fase keempat yaitu pada kode mata kuliah SPT 507 (di STISIPOL tentunya) dengan nama mata kuliah SKRIPSI.  Pada fase ini penyakit ini mengalami fase kesempurnaan dimana para mahasiswa akan mengalami gejala lupa akan segala macam yang telah dipelajarinya selama kuliah.
Saya sengaja menggambarkan keempat fase ini dengan peristilahan sebai penyakit yang mengalami perkembangbiakan dengan metamorphosis sempurna.  Hal ini disebabkan rentetan mata kuliah tersebut merupakan fase prasyarat mahasiswa untuk menyelesaikan studi S1-nya.  Pertama sekali mahasiswa diwajibkan menyelesaikan dan memahami tentang metodologi penelitian sosial, kemudian mahasiswa harus mengerti metodologi prodi yang digelutinya.  Dilanjutkan dengan praktek menyusun usulan penelitian pada mata kuliah seminar dan klimaknya adalah pembuktian pada Skripsi di meja hijau.
Sebenarnya, secara harfiah ke-empat fase ini dapat tidak dijangkiti penyakit.  Namun karena para mahasiswa hanya memikirkan kelulusan dari empat mata kuliah atau fase ini tanpa mencoba untuk memahami inti dari perkuliahan pada empat mata kuliah prasyarat tersebut, maka penyakit ini tumbuh dengan subur.  INTINYA PENYAKIT INI TIMBUL KARENA KELALAIAN MAHASISWA SENDIRI!  Dari sinilah kebingungan itu berasal.  Dimana para mahasiswa dihadapkan pada kemampuan untuk mengetahui dan memahami maksud dari empat mata kuliah yang saling berkaitan satu dengan lainnya itu.  Sehingga dari penyakit ini pula, apabila tidak segera disembuhkan akan memancing untuk datangnya penyakit kedua.

B.    Pembahasan kedua, “Penyakit Takut Tidak Selesai Kuliah Tepat Waktu”

Penyakit kedua adalah refleksi dari penyakit pertama.  Dimana para mahasiswa semester akhir, tentunya memiliki dambaan untuk menyelesaikan perkuliahannya.  Namun biasanya animo ini akan terhalang dengan kebingungan yang tak kunjung terpecahkan bagaimana caranya menyelesaikan skripsi?  Dari ketakutan yang ditimbulkan, penyakit ini digolongkan dengan “Penyakit Ganas”.  Kesakitan yang ditimbulkan penyakit ini biasanya ditunjukkan oleh para mahasiswa semester akhir dengan nada cemas “bisa tak ya, aku selesai tahun ini?”  Meskipun jawaban dari pertanyaan tersebut hanya mereka sendiri yang dapat menjawabnya, namun seyogyanya tetap saja mereka akan menanyakan hal tersebut pada orang lain.  Mungkin lebih tepatnya pertanyaan yang putus asa.
Diantara penyakit pertama dan penyakit kedua merupakan penyakit yang paling sering diderita oleh mahasiswa semester akhir, sehingga menyimpulkan bahwa apabila mahasiswa semester akhir terserang kedua penyakit ini, maka indikasinya adalah “Wajar”.  Namun meskipun wajar tetap saja harus segera diobati, karena dapat berakibat fatal dengan timbulnya penyakit dengan jenis ketiga.

C.    Pembahasan Ketiga “Penyakit tak mau tahu, selesai atau tidaknya kuliah”

Penyakit ketiga adalah versi kronis dari kedua penyakit yang telah diuraikan diatas.  Dimana, apabila mahasiswa semester akhir ada yang terkena penyakit ini, maka harapan untuk menyelesaikan perkuliahannya sangat tipis.  Walau pun selesai, akan menghabiskan waktu hingga 14 semester.  Waktu terakhir sebelum mahasiswa tersebut di tendang dari kampus dengan istilah DO!  Penyakit yang digolongkan sebagai penyakit yang sangat ganas ini, merupakan implementasi dari dibiarkannya kebingungan serta kecemasan yang disebabkan oleh penyakit pertama dan penyakit kedua secara berlarut-larut.  Penyakit ini adalah bentuk dari apatisme mahasiswa semester akhir, apakah dia akan selesai kuliah ataupun akan menyelesaikan kuliahnya tanpa gelar alias mahasiswa yang gagal.  Intinya mahasiswa yang teridentifikasi terjangkit penyakit ini akan terkena sindrom putus asa yang hampir tidak dapat dimotivasi.
Saya sebagai penulis pun tidak mampu memastikan apakah kapsul motivasi ini akan mampu menolong penderita penyakit mematikan ini.  Saya hanya mampu berdoa, semoga mahasiswa semester akhir di kampus ini tidak akan terkena penyakit terakhir ini.

Setelah kita melihat deskripsi singkat tentang ketiga penyakit diatas, sekarang marilah kita bersama-sama renungkan sebuah petuah bijak yang merupakan kapsul motivasi pada tulisan ini.  Kapsul motivasi ini penulis peroleh dari seorang Maha Guru, bernama Prof. Firdaus, LN :

“BELAJAR BETUL-BETUL!”
SEBAB BELAJAR BETUL-BETUL DAN
BELAJAR MAIN-MAIN SAMA-SAMA PENAT!”

Prof. Firdaus menggambarkan sesuatu hal yang harus dikerjakan secara bersungguh-sungguh, karena bersungguh-sungguh ataupun tidak bersungguh-sungguh akan memerlukan energi/ akumulasi biaya yang sama besarnya.  Mari kita persamakan dengan belajar di perguruan tinggi.  Apabila kita melakukan studi secara benar, sesuai dengan tata cara studi yang selayaknya maka biaya yang akan kita keluarkan akan sama dengan biaya bila kita melakukan studi dengan tidak benar/ terlalu banyak bermain.  Bahkan dengan studi secara benar kita akan memperoleh nilai plus dengan menghemat waktu disbanding terlalu banyak bermain disaat kuliah.
Apabila para mahasiswa secara umumnya mengkonsumsi resep kapsul motivasi dari Prof. Firdaus diatas secara teratur selama menjadi mahasiswa, maka insya-Allah tidak akan terjerumus hingga sampai terkena ke tiga penyakit diatas. Kapsul motivasi ini adalah kapsul yang penulis peruntukkan khusus untuk PENCEGAHAN agar mahasiswa yang masih menempuh studi pada semester 6 kebawah, akan terhindar dari ketiga penyakit diatas.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa semester akhir yang telah terjangkiti penyakit diatas?  Sabar… Orang yang sabar selalu disayang tuhan.  Baik, setelah saya memberikan resep tentang pencegahan terkena trilogi penyakit yang menyebabkan mahasiswa tak kunjung selesai, maka sekarang saya akan memberikan resep sekaligus dosisnya.

A.    Resep Kapsul Motivasi Pertama

Resep ini saya peruntukkan bagi mahasiswa semester akhir yang saat ini terkena gangguan “Kebingungan Menghadapi Skripsi”.  Penyakit ini tidak kronis, dan kedudukannya hampir sama dengan penyakit flu biasa sehingga akan sering diidap oleh banyak orang.  Langkah tepat pertama adalah, “YAKINKAN DIRI ANDA BAHWA ANDA BISA”.  Sebab anda adalah salah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang masih beruntung, mampu kuliah hingga semester akhir.  Dari sini persepsi saya, masalah yang anda hadapi bukan lagi masalah finansial.  Kalaupun ada masalah mahasiswa tidak bisa menyelesaikan studi karena finansial dikampus ini saya rasa hanya berkisar antara 1% s/d 5% dari seluruh mahasiswa yang mengalami masalah dengan penyakit ini.
Mengapa begitu?  Beberapa tahun ini, Pihak Provinsi Kepulauan Riau telah secara berkesinambungan mengucurkan dana pendidikan dalam bentuk Beasiswa kepada mahasiswa di Provinsi Kepulauan Riau dan Mahasiswa Kepulauan Riau yang kuliah di luar Kepulauan Riau.  Kampus STISIPOL merupakan kampus di Kepulauan Riau yang menerima subsidi Beasiswa terbesar di Provinsi ini.  Pada tahun 2008 ini, khusus untuk Kampus STISIPOL saja, Pemerintah Provinsi KEPRI menganggarkan 105 beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.  Sehingga penulis rasa, tidak menjadi sebuah alasan, mahasiswa semester akhir yang sememangnya berniat untuk menyelesaikan studinya tepat waktu tidak mendapatkannya.  Belum lagi jatah beasiswa dari KOPERTIS Wilayah X (Enak ya, zaman sekarang.  Zaman penulis masih kuliah tidak ada beasiswa yang dapat penulis ambil meskipun IPK penulis tertinggi pada saat itu).  Jadi sekali lagi, finansial bukan alasan!
Dari analisa yang penulis lakukan dari beberapa sampel mahasiswa yang mengalami gejala penyakit ini, penulis memperoleh kesimpulan bahwa pada dasarnya, kebingungan mereka disebabkan mereka tidak menyerap dan tidak mengetahui maksud dari perkuliahan empat mata kuliah yang telah disebutkan diatas.  Mereka ragu, bahkan tidak tahu sama sekali, apa itu metodologi penelitian, apa itu metodologi prodi, bagaimana merancang usulan penelitian kemudian bagaimana teknik diseminarkannya secara gemilang, dan bagaimana cara terbaik menghadapi sidang skripsi.  Jadi bagaimana dengan hasil perkuliahan mereka yang nilainya tertera di Kartu Hasil Studi (KHS) merekaPenulis sangat sedih mendengarkan hal itu dari mereka?  Bahkan sampai pengetahuan tentang SK-334 tentang petunjuk penulisan karya ilmiah standar di STISIPOL pun mereka tidak tahu.  Jadi bagaimana mereka hendak menyelesaikan kuliahnya dengan baik?  Sangat Non-Sense!
Namun begitu, adalah bukan langkah yang tepat penulis harus memarahi mahasiswa semester akhir disini.  Karena selain tidak mendidik, juga penulis merasa tidak pantas untuk memarahinya (siapalah penulis ini…, hanya seorang alumni yang kedudukannya tidak jelas sebagai apa di almamaternya sendiri).  Baik, untuk menyelesaikan serta mengobati penyakit yang tergolong penyakit menular namun tidak ganas ini, penulis akan menuliskan resep sekaligus dosisnya.  Bagi yang memerlukan harap segera dicatat, atau disimpan didalam kepala, jika harddisk otak kalian masih tersisa sekitar 100MB8)

1.    Langkah Pertama : buka kembali, catatan MPS kalian.  Pahami dengan baik apa itu Metodologi Penelitian Sosial.  Pelajari, bagaimana menganalisa sesuatu memiliki masalah, apa saja hal yang melatar belakangi masalah tersebut, lalu bagaimana merumuskan masalah tersebut. Kuasai apa itu : Kuantitatif, kualitatif, bagaimana menyusun hipotesis, bagaimana menentukan operasionalisasi dari konsep, pembedaan antara teori dan konsep.  Serta bagaimana sistimatika penulisan karya ilmiah;
2.    Langkah Kedua :   Pilih mata kuliah prodi yang paling kalian senangi/ kuasai, kuasai teori-teorinya dengan fasih.  Dengan memilih mata kuliah program studi yang paling kalian kuasai, maka kalian tak perlu repot memikirkan apakah masalah penelitian yang akan kalian angkat, akan mendarat atau tidak di Program Studi pilihan kalian.  Maksudnya kalian tidak perlu takut apabila dosen penguji mempertanyakan apakah masalah yang akan kalian angkat berkorelasi dengan program studi atau tidak, sebab masalah yang akan kalian angkat berangkat dari ke-tidak sinkronan antara teori mata kuliah yang dikuasai  dengan kenyataan dilapangan (de sollen n de sein);
3.    Langkah Ketiga : Rajin-rajinlah meminta saran dari dosen yang mau mendengarkan pendapat kalian (kalau dapat dosen program studi kalian sendiri).  Dengan mendengarkan saran-saran dari dosen bersangkutan, kalian akan makin memperoleh tambahan bekal ilmu guna persiapan menghadapi sidang  skripsi kelak;
4.    Langkah Keempat : Jadikan membaca buku yang berkorelasi dengan hal yang ingin anda teliti sebuah kewajiban setiap harinya, selain melihat implementasi dari teori pada buku tersebut dilapangan.  Tetap, meskipun kalian sudah sering memperoleh ilmu dari para dosen, buku adalah rangkuman pengetahuan wajib yang harus dimiliki dan dibaca.  Selain dari membaca buku, melihat antara harapan pada buku yang disuratkan melalui teori dan keadaan riil/ kenyataan dilapangan adalah rutinitas wajib yang harus dilakukan.

Demikian empat buah resep yang dapat diterapkan dalam mengahadapi serangan penyakit “kebingungan dalam menghadapi skripsi”.  Mudah-mudahan dapat menolong anda.  Ingat resep ini akan sangat manjur jika anda percaya akan kemanjurannya dan juga akan menyembuhkan jika komitmen di dalam diri ditumbuhkan untuk mematuhi penggunaan dosis-dosisnya.

B.    Resep Kapsul Motivasi Kedua

Resep ini ditujukan, kepada penderita penyakit kedua “Takut Tidak Selesai Kuliah Tepat Waktunya” dan juga untuk tambahan dosis bagi penderita penyakit pertama yang sudah mulai memasuki fase penyakit kedua.  Ketakutan-ketakutan ini hanyalah kamuflase dari kebiasaan mahasiswa yang tidak memiliki komitmen akan sampai kapan dirinya kuliah.  Ketakutan tersebut adalah rekayasa yang dibuatnya sendiri akibat dari sering berleha-leha/ main-main dalam menghadapi jadwal kuliah yang secara sistimatisnya sudah direncanakan waktunya.
Kebiasaan menunda-nunda waktu konsultasi/ bimbingan dan penelitian pada mahasiswa semester akhir akan menimbulkan pemborosan waktu yang tidak sedikit.  Sehingga hal itu baru akan disadari saat kawan-kawan satu angkatan semuanya sudah masuk dalam list wisudawan.  Akhirnya, rasa was-was akan terus menghantui.  Kapan batas akhir sidang? Kapan batas akhir masuk nilai skripsi?  Kapan terakhir registrasi wisudawan? Hingga Kapan wisuda adalah pertanyaan yang selalu menghantui mahasiswa yang terkena serangan penyakit ini.
Sebenarnya tak perlu ada ketakutan, dan tak perlu terkena serangan penyakit ini.  Bisa-bisa malah terkena serangan jantung saat baru sadar seluruh teman sudah akan wisuda, sedangkan diri sendiri belum juga sidang8)  Yang perlu saat ini hanya optimesme.  Biarkan segala kegagalan yang telah lalu berlalu, sambut hari cerah dengan  penuh motivasi.  Renungkan kapsul motivasi kedua dari Prof. Firdaus saat memotivasi kegalauan hati penulis dalam sebuah email :

“EFEKTIVITASKAN KEKUATAN ANDA PADA TITIK SASARAN YANG BESAR DAN MENANTANG, DI TEMPAT DAN DI KESEMPATAN YANG ADA SAAT INI DENGAN CERDAS, CERMAT, CEKATAN, DAN BERANI!”

Harapan selalu ada kawan… selagi nyawa masih melekat di badan, jiwa dan raga harus dipertaruhkan, demi sebuah harapan.  Maju terus, pantang mundur.  Tidak ada kata terlambat selagi masih optimis untuk terus mencoba.  Kejar terus harapan untuk dapat bersama kawan-kawan satu angkatan wisuda bersama.  Semua halangan, cobaan, permasalahan teknis, permasalahan bimbingan, kekuranan referensi dsb, harus dilalui.  Jangan takut akan kegagalan, karena kegagalan adalah pintu gerbang dari kemenangan hakiki.  Insya-Allah, Allah akan mengabulkannya, jika kita teus berikhtiar dan berdoa.

C.    Resep Kapsul Motivasi Ketiga

Resep terakhir ini saya peruntukkan khusus untuk mahasiswa semester akhir yang sudah terkena syndrome tak perduli mau lulus atau tidak.  Penyakit dengan status “Sangat berbahaya” ini sangat keras menghantam naluri yang selalu mengibarkan motivasi kedalam diri.  Meskipun sedemikian ganasnya penyakit ini, saya mencoba berikhtiar kepada Allah, agar mampu menuliskan resep dengan dosis yang tepat dengan niat ingin menolong mahasiswa semester akhir untuk sembuh dari belenggu penyakit ini.
Berbagai sebab telah menjadikan penyakit ini perkasa menutupi naluri motivasi dalam diri antara lain, kegagalan dalam menulis skripsi, seluruh judul dari usulan penelitian yang diajukan selalu ditolak, mendapatkan pembimbing yang tidak kooperatif (hanya tahu menyalahkan tanpa solusi), kekurangan referensi buku, masalah ditempat penelitian, hingga karena putus cinta, atau karena Mariage By Accident (Lho…?).  Semua merupakan kejadian-kejadian nyata yang sering saya lihat dari sudut observasi saya.  Berbagai kejadian ini sering sekali menutup pintu hati dan pintu otak untuk berfikir dengan jernih.  Hingga keputusan akhir yang sering diambil adalah untuk tidak meneruskan kuliah dan berhenti.  Sebuah keputusan konyol yang sangat tidak beralasan.  Langit masih biru bung…  Masih ada harapan berubah.  Coba terapkan resep dibawah ini :

1.    Konsultasikan dengan Dosen atau Penasehat Akademik tentang masalah yang kamu hadapi, atau konsultasikan dengan Ketua Program Studi.  Terus hingga ke Tingkat Ketua/ Dekan/ Direktur atau bahkan Rektor, hingga kamu menemukan solusi terbaik untuk masalahmu;
2.    Bertukar fikiranlah dengan orang tua atau dengan orang yang dituakan tentang masalah kamu.  Atau ceritakan masalah tersebut dengan teman yang dapat menjaga rahasia dan kamu sangat percayai;
3.    Kembalilah ke jalan yang lurus.  Maksudnya setelah kamu memperoleh solusi yang kamu sangat yakini dapat membantu menyelesaikan masalahmu, berdoalah kepada yang khalik.  Mungkin saja ini merupakan ujian dari-Nya atas keteledoran dan ketidak pedulianmu selama ini pada-Nya.

Insya-Allah dengan ketiga resep diatas kamu dapat sembuah dari penyakit ganas ini.  Ingatlah satu hal : “Belajar adalah sebuah kewajiban selama hidup”  Termasuk didalamnya belajar dari pengalaman.  Semoga dari pengalaman yang kamu peroleh saat menderita penyakit ini dapat membuat dirimu menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup lainnya.  Amin….

“Ya, Allah… jadikanlah kami orang-orang yang selalu berfikir, tentang arti dari kehidupan fana-Mu ini,  Jadikanlah kami insan-Mu yang kuat dan dapat bertahan dari segala macam cobaan yang Engkau anugerahkan kepada kami, agar kami selalu ingat kepada-Mu Ya Allah,  Masukkan lah kami kedalam golongan orang-orang berilmu yang derajatnya Engkau tinggikan Ya Allah,  Matikanlah kami sebagai makhluq yang engkau janjikan firdaus sebagai tempat kami tinggal kelak, Ya… Rabbal A’lamin…
Semoga Ramadhan-Mu dan Puasa yang kami tunaikan hanya untuk-Mu, menjadi pembelajaran, serta penghapusan dosa-dosa kami di masa lalu…”
Amin….

3 Komentar leave one →
  1. askme permalink
    September 11, 2008 5:22 am

    Woy…..
    Baca lah…………….. Artikel bagus ni………..
    Rugi tak baca tau!!!!

    Biar cae sikit kepale hotak tuw………

  2. September 18, 2008 2:49 am

    keRen bGt bG artikeLna

  3. bege permalink
    September 22, 2008 12:39 pm

    dalam menjalankan proses kuliah bukan hanya “kapsul motivasi” saja yang dibutuhkan tetapi juga niat para mahasiswa itu sendiri juga, lagian rasa selambe (cuek) pada diri mahasisiwa masih sangad tinggi. jadi kadang2 artikel yang dibaca hanya singgah sebenta dikepale otak die2 tu…jangankan artikel, pelajaran kuliah pon cam tu…
    emmm..kalau boleh saran ne…kan tak semua mahasiswa bisa mengakses internet (lagian tau la PL anak jaman sekarang ne, malas nak gerak), jadi cam mana sekira nya artikel ne dipaparkan juga di mading kampus ? kan bisa jg tu mahasiswa yang tak de keje di loby baca ne artikel…
    oya…dalam kesepatan Ramdhan ne, saye nak mintak maap la pada semua warga UMRAH RHF khususnye kpd encek Asmi..minal aidin wal fa izin, mohon maap laher dan batin…terus berkarya Fisip Umrah…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: