Skip to content

“Donald K. Emmerson” : Teliti Akar Perekat Indonesia

Agustus 28, 2007

                                                                                                                                                    By Tribun Batam

Sabtu (25/8) pagi, ia menjejakkan kakinya di Tanjungpinang. tapi hanya bertahan beberapa jam, sebab siangnya ia bertolak ke Batam untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Singapura.

Prof EmersonSepanjang hidupnya, inilah kunjungan pertama Professor Dr. Donald K Emerson ke Tanjungpinang. Meski baru pertama kali datang, tetapi kunjungan dosen senior di Stanford University, Amerika itu terbilang singkat. “saya harus segera ke Singapura , karena ada seminar, ” kata emerson dalam bahasa Indonesianya yang lumayan fasih. meski baru pertama kali ke Tanjunginang, tetapi Emerson sebelumnya sudah pernah sampai ke Natuna. “Pemandangannya bagus,” begitu kesannya.

Ia beberapa tahun pernah tinggal di Indonesia, karena itu tak heran bila professor ilmu politik ini bisa ngobrol dalam bahasa Indonesia dengan santai . Sejumlah buku tentang Indonesia sudah ditulisnya. terakhir, Ia menulis Indonesia Beyond Soeharto . Ia termasuk dalam deretan sedikit dari beberapa ahli Indonesia ( Indonesianis) yang rajin menulis buku tentang republik ini.
Ketua STISIPOL & Prof Emmerson
Saat ini, Emerson menjabat sebagai Direktur Forum AsiaTenggara pada The Walter H Shorenstein Asia Pacifik Research Centre di Stanford University. sabtu kemarin, dalam obrolan santai di ruang Ketua STISIPOL RAJA HAJI Tanjungpinang, Zamzami A Karim, Emerson juga bertanya beberapa hal tentang perkembangan media massa pasca-Orde baru,serta seputar Konsep Indonesiadan nusantara. “Saya sedang meneliti akar perekat baru bagi Indonesia.” begitu katanya, sambil mencatat beberapa pernyataan dari lawan bicaranya.

Ia mengatakan Amerika Serikat bisa bertahan dari ancaman disintegrasi bukan karena faktor agama atau yang lainnya. “Tetapi demokrasi yang jadi perekatnya,” kata lelaki kelahiran Jepang yang lama hidup di luar Amerika ini. Nah, apakah sesungguhnya yang kira-kira bisa menjadi akar perekat Indonesia zaman ini? Apakah itu Pancasila seperti zaman suharto, nusantara, atau yang lainnya. Itulah yang tengah dicari oleh ayah dari dua orang anak ini.

Maka ia pun bertanya seputar nusantara dan Indonesia tapi,ua juga dengan fasih menjelaskan soal konsep Melayu di tengah arus besar globalisasi.Menurutnya negara ituakan tetap terwujud. Namun demikian, Melayu sendiri yang penduduknya tersebar di tiga negara: Indoensia, Malaysia,dan Singapura adalah sebuah kedinamisan yang harus tetap dipertahankan.

Zamzami A. Karim & Prof Emerson at Penyengat Island

2 Komentar leave one →
  1. @skme permalink
    Agustus 30, 2007 5:25 am

    Kunjungan yang terlalu singkat membuat Prof Emmerson tidak terlalu banyak menunjukkan kemampuannya sebagai seorang profesor ilmu politik dunia. Namun kehadiran beliau cukup memberikan nilai plus terhadap perkembangan STISIPOL Raja Haji.
    Sebagai seorang penulis dan pengamat politik asing di Indonesia, sepak terjang dari Prof Emmerson sudah dapat dirasakan. Terutama dalam beberapa karyanya, seperti Indonesia Beyond Soeharto. Harapan yang dapat diberikan kepada beliau adalah dapat menjadi jembatan dalam menghubungkan kampus raja haji ini kepada dunia akademisi internasional.

  2. September 3, 2007 7:46 am

    Jadi apa pull up dari kehadiran Prof. Emmerson pak Ketua?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: